Minggu, 30 Oktober 2011

Akuntansi Biaya 3


METODE HARGA POKOK PESANAN

Karakteristik Penguna Metode Harga Pokok Pesanan
Metode harga pokok pesanan adalah suatu sistem akutansi biaya perpertual yang menghimpun biaya menurut pekerjaan – perkerjaan tertentu berdasarkan pekerjaan dan pemesanan yang telah disetujui, maka biaya prioduksi secara terus menerus di catat dan di bebankan kepada masing – masing pekerjaan yang sedang di  laksanakan seperti bahan langsung dan tenaga kerja langsung.
Kartu Harga Pokok
Kartu Harga Pokok adalah buku tambahahn dari akun barang dalam proses. Dalam mencatat arus biaya produksi biasanya mrengunakan akun buku besar dan buku tambahahn berikut ini
Akun Buku Besar
Akun persediaan bahann
Gaji dan upah                                    

Biaya Overhead pabrik
Barang dalam proses



Barang jadi
Buku Tambahan
Kartu persediaan bahan
Daftar Gaji Dan Upah

Kartu biaya overhed pabrik
Kartu harga pokok
(metode harga pokok pesanan )
Laporan biaya produksi
(metode harga pokok proses)
Kartu persediaan barang jadi

Kartu harga pokok sebagai buku pembantu dari akun barang dalam proses , mencatat biaya produksi secara terinci yaitu biaya bahan, biaya tenaga kerja langsung dan biaya pabrik yang di berikan
Akutansi Metode Harga Pokok Pesanan
Dalam pereusahaan manufaktur seluru biaya prosduksi di catata dalam suatu akun pengendali dalam barang dalam proses transaksi yang dicatat sebagai biaya produksi dalam akun  barang dalam proses biasanya berdasarkan dari tahan pemakaian secara langsung.
Akutansi Biaya Bahan
Pada dasarnya ada dua jenis transaksi utama yang mempengarui persediaan bahan, yaitu:
1.      Pembelian dan penerimaan bahan,
2.      Pengeluaran dan pemakaian bahan
Percataan pembelian dalam penerimaan bahan, setiap pencataan peresediaan yang di gunakan dalam perusaahhn manufaktur adalah sistim perpertual dan periodid.
Pada sistim perpertual pembeliaan dan penerimaan bahan dicatat dengan mendebit akun persediaan bahan, sedangkan dalam sistem periodik mendenbit akun pembelian ayat jurnal dalam sistem perpertual adalah sebagai berikut:
Persediaan Bahan                                                           xxx
                       Utang Dagang                                                                           xxx
Pencatatan pengluaran dan pemakain bahan.setiap pengeluaran bahan dari gudang untuk pemakian di pabrik, harus berdasarkan pada bukti permintaan bahan (BPD) yang dibuat oleh karyawan bagian produksi.untuk memudahkan pencatatan secara langsung kepada kartu – kartu harga pokok dari masing – masing perkerjaan yang bersangkutan, maka dokumen sumber ini di berika nomor pekerjaan – pekerjaan yang tercantum dalam kartu – kartu harga pokok tersebut. 
Permintaan bahan menurut nomor – nomor pekerjaan tersebut di jumlahkan dan di buat ayat jurnalnyA sebagai berikut.
            Barang Dalam Proses                                       xxx
Persediaan Bahan                                                                    xxx
Untuk bahan yang diminta khususnya bahan baku tetapi tidak di pakai maka akan di kembalikan ke gudang dengan membuat slip pengembalian bahan. Tran saksi pengembalian bahan ini di jurnal sebagai berikut:
             Persediaan Bahan                                           xxx
Barang Dalam Proses                                                               xxx
Ayat jurnal pada saat bahn tidak langsung atau perlengkapan pabrik di keluari dari gudang dapat di lihat berikut ini
biaya overhead pabrik                                        xxx
persediaan bahan                                                                     xxx

Akutansi Biaya Tenaga Kerja
Pencatatan dan pembebanan biaya tenaga akerja untuk penentuan harga pokok pada dasarnya di lakukan dalam dua tahap pencatatan atau penjurnalan sebagai berikut
1.      Mencatat total gaji dan upah untuk tenaga kerja langsuung dan tidak langsung
2.      Mengalokasikan biaya tenaga kerja, yaitu : biaya tenaga kerja langsung di bebankan ke akun barang dalam proses dan tenaga kerja tidak langsung di bebankan ke akun biaya ke overhead pabrik.
Sebagai ilustrasi, biaya tenaga kerja untuk bulan januari sebesar Rp 22.000.000, terdiri tenaga kerja langsung Rp 16.000.000 dan sisanya Rp 6.000.000 adalah untuk tenaga kerja tidak langsung. Pajak penghasilan karyawan 15%dari penghasilan bruto. Jurnal yang akan dibuat adalah:
            Gaji dan upah                                                  Rp        22.000.000
                        Utang pajak penghasilan                                                                        3.300.000
                        Utang gaji dan upah                                                                             18.700.000
            Utang gaji dan upah                                                     18.700.000
                        Kas                                                                                                      18.700.000
Barang dalam proses                                                    16.000.000
BOP                                                                             6.000.000
            Gaji an upah                                                                                        22.000.000

Akuntansi Biaya Overhead Pabrik
Dalam metode harga pokkok pesanan, pembebanan biaya overhead pabrik pada pekerjaan tidak mengunakaan biaya yang sesungguhny terjadi seperti biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung tetapi dengan mengunakan suatu tarif biaya overhead yang di tentukan di muka. Tarif ini di peroleh dengan membagi taksiran total biaya overhead pabrik dengan basis alokasi tertentu yaitu kapasitas produksi dalam bentuk jumlah jam tenaga kerja langsung, jumlah jam mesin biaya tenaga kerja langsung.
Ada beberapa alasan mengapa biaya overhead pabrik yang sesungguhnya tidak digunakan.
1.      Dalam biaya overhead pabrik ada element biaya tetap yang tidak tergantung dengan besarny volume produksi dan element biaya variabel yang berubah dengan adanya perubahan jumlah barang yang di produksi
2.      Banyak biaya oerhead pabrik yang belum dapat di ketahui pada akhir periode tersebut.
3.      Adanya biaya overhead pabrik yang sesungguhny tidak dapat di bebankan berdasarkan pekerjaan atau berdasarkan secara tepat waktu.
Brdasarkan taksiran jumlah jam tenaga kerja langsung sebanyak 60.000 jam dan biaya overhead pabrik sebesar Rp 180.000.000 maka tarif biaya overhead pabrik adalah Rp 180.000.000/60.000 = Rp 3000 /jam tenaga kerja langsung. Biaya overhead lainya yang di bayar tunai Rp 2.650.000 dan yang masih terutang Rp 1.850.000 sedangkan penyusutan mesin dan asuransi yang di bebankan sebesar Rp 400.000 dan Rp 350.000.
Jika perusahaan melaksanakan dua pekerjaan yaitu pekerjaan No. 101 dan pekerjaan No. 102 dengan waktu aktual yang digunakan untuk menyelesaikan pekerjaan masing – masing adalah 3.600 jam dan 2.400 jam maka biaya overhead pabrik yang di bebankan untuk pekerjaan No. 101 adalah 3.600 x Rp 3.000 = Rp 10.800.000 dan untuk pekerjaan No. 102 adalah 2.400 x Rp  3.000 = Rp 7.200.000. Jumlah ini di masukan dalam masing – masing kartu harga pokok.
Pada akhir akuntansi akun biaya overhaed pabrik dengan membuat ayat sebagai berikut
BOP yang di beban kan                                                           xxx
BOP                                                                                         xxx  

Jurnak yang harus di buat untuk contoh  di atas adalahsebagai berikut

Pembayaran BOP secara tunai dan kredit
BOP                                                                 4.500.000
            Kas                                                                                           2.650.000
            Biaya yang masih harus dibayar                                                           1.850.000
Pembebanan BOP karena asuransi dan penyusutan
BOP                                                                    750.000
            Asuransi dibayar dimuka                                                              350.000
            Akumulasi penyusutan                                                                             400.000
Pembebanan BOP yang dibebankan
Barang dalam proses                                        18.000.000
            BOP yang dibebankan                                                             18.000.000
Menutup akun BOP yang dibebankan
BOP yang dibebankan                                     18.000.000
            Biaya BOP                                                                               18.000.000


Akutansi untuk Pekerjaan Selesai dan Penjualan 
saldo akun barang dalam proses pada akhir periode sama dengan jumlah biaya bahan langsung biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead pabrik yang di bebankan yang terdapat pada kartu harga pokok jurnal untuk mencatata pekerjaan seleesai adalah sebagai berikut
Barang jadi                                                      70.000.000
barang dalamn proses                                                              78.000.000
Apabila barang jadi dan faktur telah di serahka kepara pelanggan maka harga pokok penjualan segera di catat. Dengan anggapan jumlah penjualanRp 90.000.000 dah harga pokok Rp 72.000.000. maka  Pencatatan dalam jurnal umum sebagai berikut
 Piutang dagang                                                            90.000.000
Penjualan                                                                                 90.000.000
Beban pokok penjualan                                               72.000.000     
barang jadi                                                                               72.000.000     

jika pekerjaan dilakukan dan dibuat untuk para pelanggan tertentu,  maka penjualan dapat di catata pada saat pekerjaan selesai. Jika suatu perusahaan menyelesaikan pekerjaan dan jumlah biaya pada saat selesai adalah Rp 35.250.000 serta harga jual Rp 40.000.000 maka pencatatan dalam jurnal umum sebagai berikut.
Piutang dagang                                                 40.000.000
Penjualan                                                                                 40.000.000
Beban pokok penjualan                                               35.250.000
Barang dalam proses                                                                35.250.000

Barang Rusak, Barang Cacat, Barang Sisa, dan Barang Sampah dalam Metode Harga Pokok Pesanan

Akuntansi Untuk Barang Rusak
Perlakuan akutansi untuk barang rusak dapat dilakukan dengan cara
A.  Biaya rusak setelah di kurangi nilai bersih yang dapat di relisir di bebankan kepada biaya overhead pabrik. PT. RESTU selama bulan juni menghasilkan 10.000 unit produk biaya bahan langsung 600 /unit biayatenaga kerja langsung 400 /unit   dan BOP yang di bebankan 125% dari iaya tenaga kerja langsung biaya /unitnya adalah Rp 1.500 (600+400+(400x125%)) pencatatn atas biaya pekerjaan bulan juni sebagai berikut
Barang dalam proses                            15.000.000
Persediaan bahan                                                         6.000.000
Gaji dan upah                                                              4.000.000
BOP yang di bebankan                                                            5.000.000

Anggaplah terjadi kerusakaan 200 unit dan di perkiraakan masih dapat di jual dan harga 100/ unit maka pencatatanya sebagai berikut,

Barang rusak                                          20.000
BOP                                                     280.000
Barang dalam proses                                                    300.000

Jika harga jual dari barang rusak berbeda dengan taksiran harga persediaan yang telah di tatap maka selisihnya di tambah atau di kurangkan ke akun BOP sebagai contoh barangrusak di jual  dengan harga Rp 22.000 pencatatan dalam jurnal sebagai berikut,
Kas                                                      22.000
BOP                                                                               2.000
Barang rusak                                                                20.000

Dari biaya produksi yang terjadi sebesar Rp 15.000.000 produk yang selesai sebanyak  9.800 unit sebagai akibat adanya barang rusak 200 unit. Dengan demikian harga pokok produk menjadi Rp 14.700.000 percatatan atas barang yang selesai sebagai brikut.
Barang jadi                                          14.700.000
Barang dalam proses                                                    14.700.000

B.   Biaya kerusakan setelah di kurangi nilai bersih yang dapat direalisir di bebankan secara langsung kepada pekerjaan. Sebagai contoh PT. RESTU menerima pesanana 800 unit produk biaya bahan per unit produk adalah lebih mahal dari pada produksi yang biasa yaitu Rp. 750  tarif BOP 112,5% dari biaya tenaga kerja langsung ataw 450 berdasarkan uji coba yang dilakukan dari 10 unit produk hanya bisa di peroleh 8 unit yang sesuai Untuk memenuhi pesanan 800 unit bharus di keluarkan biaya untuk memproduksi 1000 unit.
Pencatatan jurnal sebagai berikut,
Barang dalam proses                            1.600.000
Persediaan bahan                                                         7.500.000
Gaji dan upah                                                                400.000
BOP yang di bebankan                                                              450.000

Untuk 200 yang tidak memenuhi sepesifikasi pesanana di jual dengan harga Rp 400 /unit pencatatan dalam jurnal
Barang rusak                                          80.000
Barang dalam proses                                                       80.000

Pekerjaan yang telah selesai 800 unit langsung dikirim ke pelanggan. Pencatatan dalam urnal sebagai berikut.

Beban pokok penjualan                                   1.520.000
Barang dalam proses                                                    1.520.000

Akutansi Barang Cacat

Barang cacat adalah barangyang tidak memenuhi standar produksi karena kesalahan alam bahan, tenaga kerja dan harus di peroses lebih lanjut agar memenuhi standa mutu yang di tentukan.
1.             Biaya tambahan untuk menyempurnakan unit-unit yang cacat dibebankan ke akun biaya overhead pabrik jika sifat barang normal.
Sebagai contoh PT. WAHANA menerima pesanan 100 unit produk,  biaya bahan Rp 2.000 /unit biaya tenaga kerja langsung Rp 1.500 /unit sedangkan BOP 150% dari biaya tenaga kerja langsung tarif ini sudah di perhitungkan biaya tambahan atas barang yang cacat yang 100%. Selamapekerjaan  di temukan 8 unit barang cacat dan di olah kembali dengan biaya bahan langsung dan tenaga kerja langsung Rp 10.000 dan Rp 12.000 langsung dan BOP 150%. Pencacatan dalam jurnal sebagai berikut,

a.    Untuk biaya produksi dari pekerjaan pesanan
Barang dalam proses                                        575.000
Persediaan bahan                                                         200.000          
Gaji dan upah                                                              150.000
BOP yang dibebankan                                                 225.000
b.    Untuk biaya tambahan atas unit-unit yang cacat
BOP                                                                 40.000
Persediaan bahan                                                           10.000
Gaji dan upah                                                                12.000
BOP yang dibebankan                                                   18.000
c.    Untuk pekerjaan pesanan yang selesai
Barang jadi                                                      575.000
Barang dalam proses                                                  575.000
2.  Biaya tambahan untuk menyempurnakan unit-unit yang cacat dibebankan ke pekerjaan yang bersangkutan. Sebagai ilustrasi, PT WAHANA  pesanan 100 unit dalam hal ini penyisihan sebesar 10 % untuk biaya tambahan tidak dimasukkan kedalam tarif BOP. Jumlah unit yang cacat ada 8 unit dengan biaya tambahan bahan langsung dan tenaga kerja langsung untuk menyempurnakan sebesar 10000 dan 12000. Tarif BOP sebesar 140% dari biaya tenaga kerja langsung. Pencatatan dalam jurnal sebagai berikut,
a.    Untuk biaya produksipekerjaan pesanan khusus
Barang dalam proses                                        560.000
persediaan bahan                                                       200.000
Gaji dan upah                                                                        150.000
BOP                                                                           210.000
b.    Untuk biaya tambahan atas unit-unit yang cacat
Barang dalam proses                                        38.800
Persediaan bahan                                                       10.000
Gaji dan upah                                                                        12.000
BOP yang dibebankan                                                           16.800
c.    Untuk pekerjaan atas pesanan khusus yang selesai
Barang jadi                                                      598.000
Barang dalam proses                                                  598.000

akuntansi biaya 2


KONSEP BIAYA DAN LAPORAN KEUANGAN

Pengertian Biaya
Biaya adalah pengeluaran-pengeluaran atau nilai pengorbanan untuk memperoleh barang atau jasa yang berguna untuk masa yang akan datang, atau mempunyai manfaat melebihi satu periode.
Klasifikasi Biaya
Manajemen dapat melakukan pengklasifikasian biaya atas dasar:
1.      Objek biaya
a.       Produk
b.      Departemen
2.      Prilaku biaya
3.      Periode akuntansi
4.      Fungsi manajemen atau jenis kegiatan fungsional
Berdasarkan objek biaya
Dalam sebuah perusahaan terdapat banyak hal yang dijadikan sebagai objek biaya diantaranya adalah objek biaya berdasarkan:
1.      Produk                                                             5. Merek
2.      Jasa                                                                 6. Aktivitas
3.      Proyek                                                             7. Departemen
4.      Konsumen
Prilaku biaya
Ditinjau dari prilaku biaya terhadap perubahan dalam tingkat kegiatan atau volume maka biaya-biaya dapat dikategorikan dalam 3 jenis biaya:
1.      Biaya bahan langsung
2.      Biaya tenaga kerja langsung
3.      Biaya overhead pabrik
Berdasarkan periode akuntansi
Berdasarkan periode akuntansi ada dua kategori kelompok biaya:
Biaya produk
Adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan menghasilkan suatu produk, yaitu bahan langsung, tenaga kerja langsung, dan biaya overhead pabrik.
Biaya periode
Adalah biaya-biaya yang berhubungan dengan periode waktu atau periode akuntansi, tetapi tidak berhubungan dengan produk. Contoh biaya ini adalah biaya pemasaran dan biaya administrasi.
Berdasarkan Fungsi Manajemen atau Jenis Kegiatan Fungsional
Berdasarkan pada jenis kegiatan fungsional maka  biaya dapat diklasifikasikan sebagai berikut,
a.       Biaya produksi
b.      Biaya penjualan
c.       Biaya umum/administrasi
Laporan Keuangan Perusahaan Manufaktur
Laporan keuangan pokok yang harus disajikan kepada pihak eksternal  meliputi laporan laba rugi,laporan perubahan ekuitas, neraca, laporan arus kas dan catatan atas laporan keuangan.
Dalam perusahaan manufaktur terdapat laporan lain sebagai penunjang laporan laba rugi yaitu laporan pokok penjualan . biasanya dalam laporan laba rugi untuk kepentingan pemakai eksternal, elemen harga/beban pokok penjualan disajikan dengan satu jumlah tanpa rincian. Untuk kepentingan internal perusahaan disusun laporan beban pokok penjualan sebagai bagian atau rincian atas unsur yang terdapat dalam laporan laba rugi.






Akuntansi Biaya 1


TUJUAN DAN RUANG LINGKUP AKUNTANSI BIAYA

Akuntansi biaya merupakan bidang khusus akuntansi yang berkaitan terutama dengan akumulasi dan analisis biaya untuk penentuan harga pokok produk yang dihasilkan, serta untuk membantu manajemen dalam perencanaan, pengendalian,dan pengambilan keputusan.
Dalam pengelolaan perusahaan, akuntansi biaya merupakan bagian penting ilmu akuntansi dan telah berkembang menjadi tool of  management, yang berfungsi menyediakan informasi biaya bagi kepentingan manajemen untuk tujuan :
A.     Penentuan harga pokok
Dalam penentuan harga pokok, biaya-biaya dihimpun menurut pekerjaan (job), bagian-bagian (departemant), atau dirinci lagi menurut pusat-pusat biaya (cost pools), produk, dan  jasa.
B.     Perencanaan Biaya
Perencanaan merupakan suatu usaha untuk merumuskan tujuan dan menyusun program operasional yang lengkap termasuk pula proses penentuan strategi yang disusun untuk jangka panjang dan jangka pendek. Akuntansi biaya menyediakan informasi biaya yang dapat membantu manajemen dalam membuat keputusan dan merumuskan strategi untuk masa yang akan datang antara lain mengenai:
1.      Harga jual dan volume penjualan
2.      Profitabilitas dari produk
3.      Pembelian
4.      Pengeluaran barang modal
5.      Perluasan pabrik

C.     Pengendalian biaya
Pengendalian merupakan usaha manajemen untuk mencapai tujuan yang telah diterapkan dengan melakukan perbandingan secara terus –menerus antara pelaksanaan dan rencana.
D.     Dasar untuk pengembalian keputusan yang khusus
Akuntansi biaya memberikan informasi biaya yang berbeda agar dapat dibandingkan dengan pendapatan dari berbagai tindakan alternatif  yang diambil manajemen.
Berdasarkan informasi ini maka manajemen dapat membuat keputusan-keputusan perencanaan yang menyangkut masalah-masalah khusus, seperti:

1.      Membuat produk baru
2.      Menghentikan atau meneruskan suatu produk tertentu
3.      Menerima atau menolak pesanan-pesanan tertentu
4.      Membeli atau membuat sendiri
5.      Menjual langsung atau memproses lebih lanjut.
Perbedaan Akuntansi Keuangan dan Akuntansi Manajemen
Tujuan utama akuntansi adalah menyajikan informasi yang berguna kepada pihak-pihak yang berkepentingan untuk mengambil keputusan ekonomi. Pengguna akuntansi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1.      Pengguna internal
Yaitu pihak manajemen yang membuat keputusan-keputusan yang secara langsung akan mempengaruhi operasi perusahaan.
2.      Pengguna eksternal
Yaitu pihak diluar perusahaan seperti kreditor, pemegam saham, pemerintah yang membuat keputusan mengenai hubungan mereka dengan perusahaan.

Berdasarkan pengelompokan pengguna informasi akuntansi, bidang akuntansi dapat dibedakan atas dua bidang utama adalah sebagai berikut:
Akuntansi manajemen
Merupakan bidang akuntansi yang berhubungan dengan pelaporan keuangan untuk pengguna internal yang merupakan pihak yang mempunyai banyak kepentingan dengan sistem akuntansi.
Akuntansi Keuangan
Akuntansi keuangan merupakan bidang akuntansi yang menyajikan informasi keuangan yang terutama ditujukan kepada pengguna eksternal.
Ada lima aspek perbedaan yang utama antara akuntansi keuangan dan akuntansi manajemen yaitu
1.      Pemakai laporan
2.      Setandar penilaian
3.      Perspektif atau cakupan informasi
4.      Sifat dari laporan
5.      Jenis informasi
Periode laporan
Laporan keuangan untuk kepentingan pihak eksternal disusun secara periodik, baik untuk interim atau pada akhir tahun. Informasi biaya untuk kepentingan internal disiapkan sesuai kebutuhan pimpinan perusahaan dan jangka waktunya dapat menjadi fleksibel, bisa harian, mingguan, bulanan atau tahunan.


Stuktur Organisasi Perusahaan
Fungsi lini dan fungsi staf
Dalam suatu organisasi perusahaan umumnya ada tiga kelompok manajemen, sebagai berikut:
1.      Kelompok manajemen puncak
2.      Kelompok manajemen menengah
3.      Kelompok manajemen bawah/operasi
Fungsi lini adalah fungsi-fungsi dalam organisasi yang berkaitan dengan masalah  pengambilan keputusan, bimbingan atau pengarahan dan supervisi. Fungsi staf adalah fungsi-fungsi penunjang dalam organisasi yang berkaitan dengan pemberian nasihat dan supervisi kepada anggota-anggota dari fungsi lini.
Struktur Organisasi
Ada dua jenis bagan organisasi yang digunakan dalam akuntansi biaya,
Bagan organisasi lini perusahaan
Melukiskan arus wewenang dari pemegang saham sampai ketingkat manajemen operasi.
Bagan organisasi fungsi perusahaan
Melukiskan hubungan antara posisi spesialis dengan sub fungsi lainnya didalam perusahaan.

Peran Kontroler dalam Perencanaan dan Pengendalian
Peran kontroler dalam perencanaan perusahaan
Dalam pelaksanaan anggaran, kontroler berfungsi sebagai koordinator dengan memberi nasehat-nasehat dan saran agar tercapainya tujuan perusahaan.
Peran kontroler dalam pengendalian manajemen perusahaan
Pengendalian merupakan upaya untuk mengadakan perbandingan secara terus-menerus antara pelaksanaan atau hasil yang sesungguhnya dengan program-program atau anggaran yang telah disusun dan dengan segera melakukan tindakan perbaikan atas penyimpangan yang berarti atau terhadap kegagalan yang dialami untuk memenuhi hasil yang hendak dicapai.

Selasa, 11 Oktober 2011

kerangka kerja konseptual FASB

KERANGKA KERJA KONSEPTUAL FASB

KERANGKA KONSEPTUAL FASB

Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) didefinisikan oleh  FASB sebagai :“a coherent system of interrelated objectives and fundamentals that is expected to lead to consistent standards and that prescribes the nature, function, and limits of financial accounting and reporting”.
Kerangka kerja konseptual (conceptual framework) adalah suatu sistem koheren yang terdiri dari tujuan dan konsep fundamental yang saling berhubungan, yang menjadi landasan bagi penetapan standar yang konsisten dan penentuan sifat, fungsi, serta batas- batas dari akuntansi keuangan dan laporan keuangan
Yang dimaksud tujuan adalah tujuan pelaporan keuangan. Sedangkan fundamentals (kaidah-kaidah pokok) adalah konsep-konsep yang mendasarai akuntansi keuangan, yakni yang menuntun kepada pemilihan transaksi, kejadian, dan keadaan-keadaan yang harus dipertanggungjawabkan, pengakuan dan pengukurannya, cara meringkas serta mengkomunikasikannya kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Konsep-konsep yang bersifat pokok atau fundamental, artinya bahwa konsep-konsep lainnya mengalir dari konsep-konsep pokok tersebut yang diperlukan sebagai referensi berulang-ulang dalam menetapkan, menafsirkan, dan menetapkan standar akuntansi keuangan dan pelaporan.
Kebutuhan akan Kerangka Kerja Konseptual
  1. Kerangka kerja konseptual akan meningkatkan pemahaman dan keyakinan pemakai laporan keuangan atas pelaporan keuangan, dan akan menaikkan komparabilitas antar laporan keuangan perusahaan.
  2. Masalah-masalah yang baru akan dapat dipecahkan secara cepat jika mengacu pada kerangka teori yang telah ada

Perkembangan Kerangka Kerja Konseptual FASB (Financial Accounting Standard Board) telah menerbitkan enam statement of financial accounting concept yang berhubungan dengan pelaporan keuangan entitas bisnis, yaitu:
  • SFAC no. 1 “objective of financial reporting by business enterprises”, yang menyajikan tujuan dan sasaran akuntansi.
  • SFAC no. 2 “qualitative caracteristics of accounting information”, yang menjelaskan karakteristik yang membuat informasi akuntansi bermanfaat.
  • SFAC no. 3 “element of financial statement of business enterprises”, yang memberikan definisi dari pos-pos yang terdapat dalam laporan keuangan seperti aktiva, kewajiban, pendapatan dan beban.
  • SFAC no. 5 “recognition and measurement in financial statement of business enterprises”, yang menetapkan kriteria pengakuan dan pengukuran fundamental serta pedoman tentang informasi.
  • SFAC no. 6 “element of financial statement”, yang menggantikan SFAC no. 3 dan memperluas SFAC no. 3 dengan memasukkan organisasi-organisasi nirlaba.
  • SFAC no. 7 “using cash flow information and present value in accounting measurement”, yang memberikan kerangka kerja bagi pemakaian arus kas masa depan yang diharapkan dan nilai sekarang (present value) sebagai dasar pengukuran

TINGKAT PERTAMA: TUJUAN DASAR
  • Tujuan pelaporan keuangan (objectives of financial reporting) adalah untuk menyediakan informasi:
1)      yang berguna bagi mereka yang memiliki pemahaman memadai tentang aktivitas bisnis dan ekonomi untuk membuat keputusan investasi serta kredit;
2)      untuk membantu investor yang ada dan potensial, kreditor yang ada dan potensial, serta pemakai lainnya dalam menilai jumlah, waktu, dan ketidakpastian arus kas masa depan;
3)      tentang sumber daya ekonomi, klaimterhadap sumber daya tersebut, dan perubahan di dalamnya.
  • Tujuan(objectives) dimulai dengan lebih banyak berfokus pada informasi yang berguna bagi para investor dan kreditor dalam membuat keputusan. Fokus ini lalu menyempit pada kepentingan investor dan kreditor atas prospek penerimaan kas dari investasi mereka dalam, atau dari pinjaman yang telah mereka berikan ke entitas bisnis. Pada akhirnya, tujuan berfokus pada laporan keuangan yang menyediakan informasi yang berguna untuk menilai prospek arus kas yang akan diterima entitas bisnis yaitu arus kas yang menjadi harapan investor dan kreditor. Pendekatan ini dikenal sebagai kegunaan keputusan (decision usefulness).
  • Dalam menyediakan informasi kepada pemakai laporan keuangan, profesi akuntan mengandalkan laporan keuangan bertujuan-umum(general-purpose financial statement), yaitu menyediakan informasi paling bermanfaat dengan biaya minimal kepada berbagai kelompok pemakai
TINGKAT KEDUA : KONSEP-KONSEP FUNDAMENTAL
Karakteristik Kualitatif Informasi Akuntansi
Agar berguna dalam pengambilan keputusan (decision usefulness), informasi akuntansi harus memiliki dua kualitas yaitu kualitas primer dan kualitas sekunder. Tentu saja terdapat beberapa kendala untuk mencapai dua kualitas tersebut.
Kualitas Primer
Relevansi (relevance) dan keandalan (reliability) harus melekat pada informasi akuntansi.
1)      Relevansi. Agar relevan informasi akuntansi harus mampu membuat perbedaan dalam sebuah keputusan. Informasi itu mampu mempengaruhi pengambilan keputusan dan berkaitan erat dengan keputusan yang akan diambil, jika tidak berarti informasi tersebut dikatakan tidak relevan. Informasi  yang relevan harus memiliki nilai umpan balik (feed-back value), yakni mampu membantu menjustifikasi dan mengoreksi harapan masa lalu. Informasi juga harus memiliki nilai prediktif (predictive value) yakni dapat digunakan untuk memprediksi apa yang akan terjadi di masa yang akan datang.
Selain itu kualitas relevan juga harus mempunyai substansi tepat waktu (timeliness). Informasi harus disajikan kepada para pemakai sebelum informasi itu kehilangan kapasitasnya untuk mempengaruhi pengambilan keputusan.

2)      Keandalan. Informasi dianggap andal jika dapat diverifikasi,  netral, disajikan secara tepat serta bebas dari kesalahan dan bias (penyimpangan). Keandalan sangat diperlukan bagi individu-individu pemakai yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.
Realibilitas sangat diperlukan oleh individu-individu yang tidak memiliki waktu atau keahlian untuk mengevaluasi isi faktual dari informasi.
  • Daya Uji (verifiability): ditunjukkan ketika pengukur-pengukur independen, dengan menggunakan metode pengukuran yang sama, mendapatkan hasil yang serupa.
  • Ketepatan penyajian (representational faithfulness): angka-angka dan penjelasan dalam laporan keuangan mewakili apa yang benar-benar ada dan terjadi.
  • Netralitas(neutrality): informasi tidak dapat dipilih untuk kepentingan sekelompok pemakai tertentu. Info yang disajikan harus faktual, benar dan tidak bias
3)      Keberdayaujian (verifiability). Informasi harus dapat diuji kebenarannya. Dapat diujinya kebenaran informasi akuntansi berdasar pada keobyektifan dan konsensus. Contoh, keandalan informasi harga perolehan fixed assets harus diuji berdasar data masa lalu yang terekam pada faktur (keobyektifan). Tetapi keandalan informasi tentang depresiasi aktiva tetap itu adalah berdasarkan konsensusa mengenai metode depresiasi yang digunakan, taksiran nilai residu, dan taksiran umur ekonomis.
4)      Kenetralan (neutrality). Informasi akuntansi dimaksudkan untuk memenuhi tujuan berbagai kelompok pemakai. Oleh karena itu harus bebas dari usaha-usaha untuk memberikan keuntungan lebih kepada kelompok tertentu.
5)      Kejujuran penyajian (representational faithfulness). Penyajian yang jujur berarti adanya kesesuaian antara fakta dan informasi yang disampaikan.
Kualitas Sekunder
Kualitas sekunder yang harus dimiliki informasi akuntansi adalah keberdayabandingan  (comparability) dan konsistensi (consistency).
1)      Keberdayabandingan.  Informasi akuntansi akan lebih bermanfaat jika dapat dibandingkan antara satu perusahaan dengan perusahaan yang lain dalam satu industri (perbandingan horizontal) atau membandingkan perusahaan yang sama untuk periode yang berbeda (perbandingan vertikal). Jadi diperlukan standar dan ukuran tertentu.
2)      Konsistensi.  Sebuah entitas  dikatakan konsisten dalam menggunakan standar akuntansi apabila  mengaplikasikan perlakuan akuntansi (metode akuntansi) yang sama untuk kejadian-kejadian serupa, dari periode ke periode.
Kendala-kendala.
Terdapat  dua kendala yang mempengaruhi tercapainya kualitas informasi seperti yang telah dijelaskan, yaitu pertimbangan manfaat-biaya dan tingkat materialitas. Dua kendala lainnya yang kurang dominan tapi merupakan bagian dari lingkungan pelaporan adalah praktek industri dan konservatisme.
1)      Pertimbangan manfaat-biaya (cost-effectiveness). Untuk menghasilkan informasi yang relevan,andal, berdaya banding, dan konsisten dibutuhkan biaya yang mahal. Oleh karena biaya dan terutama manfaat tidak mudah diukur, maka mempertimbangkan hubungan manfaat-biaya menjadi masalah
2)      Materialitas (materiality) berhubungan dengan dampak suatu item terhadap operasi keuangan perusahaan secara keseluruhan. Suatu item akan dianggap material jika pencantuman atau pengabaian item tersebut mempengaruhi atau mengubah penilaian seorang pemakai laporan keuangan. Baik faktor-faktor kuantitatif maupun kualitatif harus dipertimbangkan dalam menentukan apakan suatu item material atau tidak.
3)      Praktik industri.(industry practices) Sifat unik dari sejumlah industri  dan perusahaan terkadang memerlukan penyimpangan dari teori dasar.
4)      Konservatisme (conservatism) berarti jika ragu, maka pilihlah solusi yang sangat kecil kemungkinannya dalam menghasilkan penetapan laba dan aktiva yang terlalu tinggi. Tujuan dari konvensi ini, jika diaplikasikan secara tepat adalah menyediakan pedoman yang paling rasional dalam situasi sulit : jangan menyajikan angka laba bersih dan aktiva bersih yang terlalu tinggi.
Elemen-elemen Laporan Keuangan.
SFAC No. 6 menetapkan sepuluh elemen utama laporan keuangan. Cakupannya bukan hanya perusahaan yang berorientasi laba, tetapi juga organisasi nirlaba. Elemen-elemen laporan keuangan bagi organisasi yang berorientasi laba meliputi 10 macam,  yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, investasi oleh pemilik, distribusi kepada pemilik, laba komprehensif, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian. Adapun bagi organisasi nirlaba ada 7 macam, yaitu : aktiva, kewajiban, ekuitas, pendapatan, beban, keuntungan, dan kerugian.
TINGKAT KETIGA : PENGAKUAN DAN PENGUKURAN
Tingkat ketiga kerangka konseptual terdiri dari konsep-konsep yang dipakai untuk mengimplementasikan tujuan dasar dari tingkat pertama. Konsep-konsep ini menjelaskan apa, kapan, dan bagaimana unsur-unsur serta kejadian keuangan harus diakui, diukur, dan dilaporkan oleh sistem akuntansi.
Asumsi-Asumsi Dasar.
Asumsi-asumsi  menyediakan satu landasan bagi profesi akuntansi. Jadi, asumsi dasar akuntansi adalah anggapan-anggapan yang digunakan oleh para akuntan agar akuntansi dapat dipraktikkan.
a.   Asumsi entitas ekonomi (economic entity assumption). Akuntansi memandang bahwa perusahaan merupakan unit yang berdiri sendiri dan terpisah dari pihak-pihak yang memiliki kepentingan (pemilik, kreditor, karyawan, dan lainnya).
b. Kesinambungan (going concern). Sebagian besar metode akuntansi di dasarkan pada asumsi kelangsungan hidup yaitu perusahaan bisnis akan memiliki umur yang panjang.pengalaman mengindikasikan bahwa, meskipun banyak mengalami kegagalan bisnis, perusahaan dapat memiliki kelangsungan hidup yang panjang
c. Asumsi unit moneter ( monetary unit assumption). Akuntansi menggunakan unit moneter sebagai alat pengukur suatu obyek atau aktivitas perusahaan dan menganggap nilai uang adalah stabil dari waktu ke waktu.
d. Asumsi periodisitas (periodicity assumption). Cara yang paling akurat untuk mengukur hasil operasi perusahaan adalah dengan mengukurnya pada saat perusahaan tersebut di likuidasi. Namun, pengambil keputusan tidak bisa menunggu selama itu untuk menerima informasi semacam itu. Asumsi periodisitas (periodicity assumption) atau periode waktu menyiratkan bahwa aktivitas ekonomi sebuah perusahaan dapat di pisahkan dalam periode waktu artifisial periode waktu ini bervariasi, tetapi yang paling umum yaitu secara bulanan, kuartalan dan tahunan
 MASALAH-MASALAH DALAM KERANGKA KONSEPTUAL
 FASB mencoba menunjukkan masalah-masalah konseptual terpenting yang berkaitan dengan penetapan standar, yaitu :
Masalah 1 : Pandangan mengenai laba atau penghasilan mana yang harus digunakan?
Ada tiga (3) pandangan berbeda yang diidentifikasikan dalam penentuan laba atau penghasilan (earnings) :
  • Pandangan Aktiva/ Kewajiban atau Pandangan Neraca/Pandangan Pemeliharaan Modal
Berpendapat bahwa pendapatan dan beban hanya berasal dari perubahan dalam aktiva dan kewajiban. Pendapatan adalah peningkatan aktiva dan penurunan kewajiban sedangkan beban adalah penurunan aktiva dan peningkatan kewajiban.
Beberapa peningkatan dan penurunan dalam aktiva bersih dikeluarkan dari definisi penghasilan, yaitu, kontribusi modal, penarikan modal, koreksi atas pendapatan di periode-periode lalu, serta keuntungan dan kerugian akibat pemilik (holding gains and losses)
  • Pandangan Pendapatan/Beban atau Pandangan Laporan Laba Rugi/Pandangan Penandingan
Berpendapat bahwa adanya pendapatan dan beban dihasilkan oleh adanya kebutuhan akan penandingan yang tepat (proper matching). Laba pada dasarnya hanyalah selisih antara pendapatan di satu periode dengan beban yang terjadi untuk memperoleh pendapatan tersebut.
Penandingan, yang merupakan proses pengukuran fundamental dalam akuntansi terdiri atas :
1)      Pengakuan pendapatan atau waktu pengakuan melalui prinsip realisasi
2)      Pengakuan beban dengan tiga kemungkinan cara:
  • Mengasosiasikan penyebab dan dampaknya, seperti harga pokok penjualan
  • Alokasi yang sistematis dan rasional, seperti depresiasi (penyusutan)
  • Pengakuan langsung, seperti biaya penjualan dan administrasi.
Pandangan pendapatan/beban terutama menekankan pengukuran penghasilan perusahaan, dan bukannya kenaikan atau penurunan modal bersih. Aktiva dan kewajiban (termasuk yang ditangguhkan), dianggap sebagai nilai sisa (residu) yang harus dibawa ke periode-periode di masa depan untuk memastikan terjadinya penandingan yang tepat dan menghindari terjadinya distorsi keuntungan.

  • Pandangan Non-artikulasi
Didasarkan atas adanya kepercayaan bahwa artikulasi akan diikuti oleh redundansi (pencatatan yang berlebihan) karena seluruh peristiwa yang dilaporkan di laporan laba rugi juga dilaporkan di neraca, meski dari sudut pandang berbeda.
Pendapatan dan beban dapat mendominasi pengukuran penghasilan. Kedua laporan keuangan tersebut memiliki keberadaan dan arti yang saling independen. Karenanya, dapat digunakan skema-skema pengukuran yang berbeda untuk keduanya.
Salah satu contohnya dari pandangan non artikulasi ini adalah penggunaan metode LIFO di laporan laba rugi dan FIFO di neraca.
 Jika artikulasi dapat dibuktikan sebagai suatu hal yang tidak hanya dibutuhkan namun ternyata juga menguntungkan, maka pilihan yang ada hanyalah antara pandangan aktiva/kewajiban atau pandangan pendapatan/beban. Pilihan diantara kedua pandangan ini tergantung pada pandangan yang mana yang merupakan proses pengukuran yang fundamental :
1) Pengukuran atribut-atribut aktiva dan kewajiban dan perubahan-perubahannya
à Penghasilan hanya merupakan konsekuensi dan akibat dari perubahan-perubahan tertentu dari aktiva dan kewajiban
2) Proses penandingan
à Perubahan yang terjadi dalam aktiva dan kewajiban hanyalah konsekuensi dan akibat dari pendapatan dan beban.
à Telah mengarah dengan diakuinya hal-hal seperti “beban yang ditangguhkan”, “kredit yang ditangguhkan”, dan “cadangan” dalam laporan posisi keuangan yang tidak mencerminkan sumber daya ekonomi dan kewajiban namun diperlukan untuk memastikan adanya penandingan dan penentuan laba dengan benar.